Kisah para Jin Candi Masa kini.
KISAH PARA "JIN" CANDI MASA KINI
Pernah terpikirkan tidak bagi yang sering main ke situs, atau reruntuhan bangunan candi dan melihat ribuan batu-batu yang berserakan itu kemudian dipugar dan diberdirikan kembali oleh orang2 masa kini? Kalau dipikir2 membuat baru dan memugar itu lebih gampang membuat baru, cz memugar itu harus menyusun batuan yang ada, sedangkan membuat baru kita bisa mencetak batu yang dibutuhkan.
Nah, ketika pemugaran itu ada orang2 yang bertugas khusus untuk memecahkan masalah ini gaes, mereka adalah pencari batu. Tugas mereka seperti judulnya, mengumpulkan dan mencari pasangan batu yang sudah tersedia di reruntuhan. Hebatnya, mereka ini tanpa teori akademis dan bukanlah orang2 yang masuk jurusan khusus disekolah. Namun hanya mengandalkan insting dan mata batin. Seperti kisah pak Kasiman "Buto Cakil" yang ane dapet dari buku "Bandung Bondowoso Masa Kini " keluaran BP3 Jateng. Loh kok buku? czmau nanya2 langsung belum sempat, juga takut mengganggu pekerjaan dan ternyata ada kisah2nya dibuku ini
Pak Kasiman pertama kali bersentuhan dengan batu Candi ketika ada proyek dicandi Plaosan Lor 1973. Beliau mendapat bimbingan dari pak Arjo Utomo. Pertma bekerja beliau hanya ditugaskan mengamati bentuk bangunan selama 6 bulan. Sesudah itu kemudian diajarin cara2 menemukan batu candi yang dibutuhkan. Proses magang lapangan ini gak sebentar, kek kuliah S1 menghabiskan waktu selama 4 Tahun. Baru beliau bisa dilepas sendiri.
Namun setelah pelepasan bukannya tanpa kendala, jika batuan Candi yang dicari tidak ketemu kepalanya pusing juga. Nah jika sudah seperti ini dan pikirannya sudah mentok beliaunya pulang, meninggalkan pekerjaan. Sama teman2 dipekerjaan atau "juragannya" dibiaarkan saja kalau Pak Kasiman tiba2 pulang. Mereka sudah hafal dengan tabiat ini, cz ini artinya pak Kasiman butuh ketenangan, menjernihkan pikiran sambil menunggu "ilham".
Pak Kasiman adalah salah satu "jin" yang turut memugar Candi Plaosan Lor, Plaosan Kidul, Sewu, Sambi Sari hingga Dieng. Menurut penuturan beliau keberhasilan dalam pekerjaannya hanya didasari kemauan, ketelatenan dan mengasah mata batin, Karena beliau menyadari pekerjaan ini tak cukup bermodal teori, namun kejernihan hati dan "keberuntungan" juga merupakan salah satu faktor utama. Gimana caranya?? Puasa, atau tirakat adalah salah satu kunci sukses pak Kasiman. Puasa apaan?? Sebisanya, dan hanya menurut nalurinya.
Tak jarang pula pak Kasiman melakukan "nepi" tidur dicandi yang hendak dipugar. Percaya atau tidak disini beliau mendapatkan petunjuk, kemana harus mencari batu yang dicari dan apa yang harus dilakukan. Sekarang Pak Kasiman telah pensiun, dan tugasnya digantikan oleh para "juniornya", semoga nti pas jalan2 bisa ngobrol sama para penggantinya
😁
Dari 5 orang kisah pencari batu yang ditulis di buku ini semua cerita
hampir senada. Kunci sukses mereka hanya Tirakat, olah batin, banyak
berdoa dan mencintai pekerjaan. Hebat ya...
Pernah terpikirkan tidak bagi yang sering main ke situs, atau reruntuhan bangunan candi dan melihat ribuan batu-batu yang berserakan itu kemudian dipugar dan diberdirikan kembali oleh orang2 masa kini? Kalau dipikir2 membuat baru dan memugar itu lebih gampang membuat baru, cz memugar itu harus menyusun batuan yang ada, sedangkan membuat baru kita bisa mencetak batu yang dibutuhkan.
Nah, ketika pemugaran itu ada orang2 yang bertugas khusus untuk memecahkan masalah ini gaes, mereka adalah pencari batu. Tugas mereka seperti judulnya, mengumpulkan dan mencari pasangan batu yang sudah tersedia di reruntuhan. Hebatnya, mereka ini tanpa teori akademis dan bukanlah orang2 yang masuk jurusan khusus disekolah. Namun hanya mengandalkan insting dan mata batin. Seperti kisah pak Kasiman "Buto Cakil" yang ane dapet dari buku "Bandung Bondowoso Masa Kini " keluaran BP3 Jateng. Loh kok buku? czmau nanya2 langsung belum sempat, juga takut mengganggu pekerjaan dan ternyata ada kisah2nya dibuku ini
Pak Kasiman pertama kali bersentuhan dengan batu Candi ketika ada proyek dicandi Plaosan Lor 1973. Beliau mendapat bimbingan dari pak Arjo Utomo. Pertma bekerja beliau hanya ditugaskan mengamati bentuk bangunan selama 6 bulan. Sesudah itu kemudian diajarin cara2 menemukan batu candi yang dibutuhkan. Proses magang lapangan ini gak sebentar, kek kuliah S1 menghabiskan waktu selama 4 Tahun. Baru beliau bisa dilepas sendiri.
Namun setelah pelepasan bukannya tanpa kendala, jika batuan Candi yang dicari tidak ketemu kepalanya pusing juga. Nah jika sudah seperti ini dan pikirannya sudah mentok beliaunya pulang, meninggalkan pekerjaan. Sama teman2 dipekerjaan atau "juragannya" dibiaarkan saja kalau Pak Kasiman tiba2 pulang. Mereka sudah hafal dengan tabiat ini, cz ini artinya pak Kasiman butuh ketenangan, menjernihkan pikiran sambil menunggu "ilham".
Pak Kasiman adalah salah satu "jin" yang turut memugar Candi Plaosan Lor, Plaosan Kidul, Sewu, Sambi Sari hingga Dieng. Menurut penuturan beliau keberhasilan dalam pekerjaannya hanya didasari kemauan, ketelatenan dan mengasah mata batin, Karena beliau menyadari pekerjaan ini tak cukup bermodal teori, namun kejernihan hati dan "keberuntungan" juga merupakan salah satu faktor utama. Gimana caranya?? Puasa, atau tirakat adalah salah satu kunci sukses pak Kasiman. Puasa apaan?? Sebisanya, dan hanya menurut nalurinya.
Tak jarang pula pak Kasiman melakukan "nepi" tidur dicandi yang hendak dipugar. Percaya atau tidak disini beliau mendapatkan petunjuk, kemana harus mencari batu yang dicari dan apa yang harus dilakukan. Sekarang Pak Kasiman telah pensiun, dan tugasnya digantikan oleh para "juniornya", semoga nti pas jalan2 bisa ngobrol sama para penggantinya


Comments
Post a Comment
terima kasi atas kunjungannya.berikan masukan komentarmu