Misteri Harta Karun 'Flor de la Mar' Rp 34,6 T di Laut Indonesia


Kapal Flor de la Mar konon menyimpan harta karun Rp 34,6 triliun
Flor de la Mar adalah kapal laut milik kerajaan Portugis yang dibangun pada tahun 1502. Nama kapal yang artinya bunga laut ini tidak asing lagi dalam sejarah penjajahan Indonesia. Kapal ini menjadi transportasi bangsa Portugis saat membawa rempah-rempah dari Goa dan Malacca.
Kapten Alfonso de Albuquerque menahkodai Flor de la Mar yang berisi penuh harta dari Malacca.
Menurut sejarah, harta yang ada di Flor de la Mar merupakan harta terbanyak yang pernah dibawa oleh kapal Portugis. Malangnya, pada 20 November 1511, kapal yang berisi harta ini terjebak badai dan hancur di perairan terumbu karang Sumatera. Kepingan emas seberat lebih dari 54.000 kilogram pun tercecer terbawa arus
Kala itu, pelabuhan di Lisbon sibuk dengan aktivitas pelayaran ke 'Dunia Baru' yang belum terjamah dan terjajah Bangsa Eropa.
Armada yang terdiri atas kapal-kapal tercanggih pada zamannya dikirim ke lautan luas dan menyeberangi samudera. Salah satunya adalah Flor de la Mar atau Flower of the Sea.
Dengan panjang 118 kaki (35,9 meter), tinggi 111 kaki (33,8 meter), dan berat 400 ton, Flor de la Mar adalah kapal terbesar dalam armadanya.
Bahtera itu dikirim menuju India, untuk memberikan kemuliaan pada negara dan 'Tuhan', dengan menaklukkan dan menjarah tanah yang kaya akan emas dan rempah-rempah, dua hal yang memesona bangsa Barat saat itu.
Meski tampak indah dan megah, Flor de la Mar atau 'Bunga di Lautan' itu memiliki sejumlah kelemahan. Sejumlah orang bahkan menganggapnya punya 'karma buruk'.
Seperti dikutip dari Daily Beast, Selasa (10/1/2017), kapal itu berlayar ke India, di mana mereka bisa mengumpulkan semua rampasan yang memenuhi bagian lambung, sebelum akhirnya berlayar pulang.
Dalam perjalanan ke Portugis, kapal itu menemui masalah. Ternyata bahtera sebesar itu sedikit rumit dalam hal desain dan tak sesuai untuk mengarungi perairan yang dilayari. Flor de la Mar mulai bocor.
Lubang itu akhirnya ditambal dan kapal tersebut tiba di pelabuhan tujuan beberapa bulan lebih lama dari waktu yang diagendakan.
Namun, permasalahan ternyata belum ditangani secara tuntas. Meski demikian, Flor de la Mar terus dipaksa berlayar.
Di bawah kendali nakhoda baru, kapal itu berlayar beberapa tahun setelahnya, dalam misi dagang kedua ke India. Lagi, lagi, kebocoran terjadi dalam perjalanan pulang. Terpaksa, perjalanan Flor de la Mar dihentikan setengah jalan.
Ia kemudian menjadi bagian dari armada patroli di Hindia Timur, yang mengintai lalu merampas apapun yang dianggap berharga.
Selama empat tahun ke depan, Flor de la Mar menjadi kapal perang, membantu menaklukkan wilayah-wilayah yang maju secara budaya dan ekonomi seperti Socotra, Muscat, Ormuz, dan Goa.
Replika kapal Flor de la Mar di Malaka, Malaysia (Public Domain)
Kapal itu menjadi bagian dari skuadron di bawah komando Alfonso de Albuquerque, seorang bangsawan dan laksamana yang akan menjadi raja muda kedua Portugal di India.
Pada tahun 1511, Albuquerque mengincar Malaka di Semenanjung Malaysia.
Posisi Malaka berada di persimpangan rute perdagangan regional dan menjadi pusat penumpukan kekayaan internasional.
Albuquerque tidak bisa menahan diri untuk menguasainya. Setelah pengepungan dua belas hari, yang diwarnai kekerasan dan pembunuhan, upaya Albuquerque menjajah Malaka dinyatakan sukses.
Tak hanya secara politis -- yang menjadikan Malaka sebagai wilayah baru kerajaan Portugal, Albuquerque juga menjarah kota dan istana sultan.
Meski reputasi Flor de la Mar tak selalu baik, Albuquerque memutuskan menggunakan kapal itu untuk mengangkut harta jarahannya itu.
Ia berniat pulang ke Portugal dengan kemenangan gilang-gemilang, membawa kekayaan tak terbatas, dan membawa kembali Flor de la Mar -- yang dulu menjadi kapal terbesar negaranya, setelah enam tahun mengarungi lautan.
"Rampasan Portugis yang diambil dari Malaka lebih dari yang bisa dibayangkan. Lebih dari 60 ton jarahan emas dalam bentuk hewan, burung, furniture berlapis emas, dan mata uang -- itu yang berasal dari istana sultan saja," kata pemburu harta karun Robert F. Marx dan istrinya Jenifer Marx dalam buku Treasure Lost at Sea: Diving to the World’s Great Shipwrecks.
"Harta itu makan banyak tempat sehingga para awaknya mengalami kesulitan menempatkan 200 peti berisi perhiasan. Berlian, rubi, zamrud dan safir di dalamnya, senilai lebih dari tiga puluh juta crown, akan bernilai miliaran dolar hari ini,"
Yang karam dari Flor de la Mar kini jadi harta karun.

Comments

Popular posts from this blog

Hukum Sula

RADEN FATAH , Benarkah Memberontak Kepada Ayahnya Sendiri?

BENTENG OTANAHA